Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Nasional

Ekonom UGM Endus Pola Penggusuran ‘Orang Jokowi’ di Balik Mundurnya Gubernur BI

David Moore - narakabar.com 2 mins read 10 views

Ekonom UGM Endus Pola Penggusuran Orang Jokowi di Bank Indonesia (BI) menjadi sorotan publik setelah pengunduran diri Perry Warjiyo. Langkah mantan Gubernur

Ekonom UGM Endus Pola Penggusuran ‘Orang Jokowi’ di Balik Mundurnya Gubernur BI

Ekonom UGM Endus Pola Penggusuran Orang Jokowi di BI

Narakabar.com – Ekonom UGM Endus Pola Penggusuran Orang Jokowi di Bank Indonesia (BI) menjadi sorotan publik setelah pengunduran diri Perry Warjiyo. Langkah mantan Gubernur BI tersebut membuka ruang bagi berbagai analisis politik, termasuk dari Yudistira Hendra Permana, seorang akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang menyoroti adanya pola pergantian pejabat strategis era Presiden Joko Widodo.

Menurut Yudistira, pengunduran diri Perry Warjiyo bukan sekadar rotasi biasa, melainkan mencerminkan dinamika politik yang lebih dalam. Ia menjelaskan bahwa masyarakat mulai menyadari adanya tren pergantian tokoh-tokoh yang sebelumnya menduduki posisi-posisi vital di negara, termasuk di sektor keuangan dan perbankan.

“Hal yang dikhawatirkan juga itu adalah ini sesuatu yang harus dipahami juga secara politisnya. Orang-orangnya Presiden Jokowi itu coba digantikan oleh itu tadi tanda kutip, orang-orang yang ada di dalam pemerintahannya yang duduk di eksekutif sekarang,” ujar Yudistira kepada Suara.com pada Senin (27/7/2026).

Isu Independensi BI Semakin Sensitif

Ekonom UGM Endus Pola Penggusuran Orang Jokowi di BI juga menyoroti aspek independensi bank sentral. Yudistira menekankan bahwa BI secara hukum merupakan lembaga independen yang seharusnya bebas dari intervensi politik. Namun, munculnya kesan bahwa pergantian pimpinan BI dipengaruhi kepentingan politik dapat mengikis kepercayaan pasar.

Menurutnya, isu independensi BI sebenarnya sudah lama muncul. Di mana lembaga BI ini kan seharusnya independen dengan tujuan utamanya adalah stabilitas kurs rupiah. Sinyal-sinyal tersebut sudah mulai dibaca oleh investor dan pelaku pasar sejak beberapa waktu terakhir.

“Kalau hemat saya itu, ini sebenarnya isu yang sudah lama muncul. Isunya independensi BI. Di mana lembaga BI ini kan seharusnya independen dengan tujuan utamanya adalah stabilitas kurs rupiah,” tandasnya.

Beberapa kebijakan yang memperkuat persepsi tersebut antara lain implementasi burden sharing, masuknya Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI, serta berbagai pernyataan pemerintah mengenai hubungan BI dengan pemerintah. Investor dan pelaku pasar menunjukkan respons negatif apabila penunjukan gubernur baru dianggap terlalu banyak dipengaruhi oleh kepentingan politik penguasa.

“Dan ini ada tempat-tempat yang sangat-sangat seksi, krusial ya, posisi pengambil kebijakan fiskal, pengambil kebijakan moneter. Menteri Keuangan ganti. Terus ini ganti juga… ya itu, kayak ada penggusuran orang-orang rezim lama,” ucapnya.

Respons pasar terhadap mundurnya Perry memang masih relatif terkendali. Menurut Yudistira, hal itu tak lepas dari jabatan Gubernur BI sementara yang diisi Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti sesuai amanat undang-undang. Namun, ia menilai bahwa sentimen politik tetap menjadi perhatian utama bagi stabilitas kebijakan moneter nasional.

“Ini hal-hal yang direspons pasar itu, dan juga ya kita bicara dari di sini aspek jelas politis ya, bahwasanya BI ini sedang disetir,” ucapnya.

Secara keseluruhan, Ekonom UGM Endus Pola Penggusuran Orang Jokowi di BI memberikan perspektif penting mengenai dinamika politik yang mempengaruhi lembaga-lembaga strategis nasional. Publik diharapkan dapat memahami bahwa pergantian pejabat bukan hanya soal teknis, tetapi juga mencerminkan perubahan konfigurasi kekuasaan yang berdampak pada arah kebijakan negara.

Gabung diskusi