Skip to content
Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Nasional

Guru Besar UGM Sebut HUT RI Mewah Tapi Keropos: Kemerdekaan Versi Negara Cuma Pesta Pora

Sandra Martin - narakabar.com 3 mins read

Di tengah gemerlap perayaan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, suara kritik justru datang dari lingkungan akademik. Zainal Arifin Mochtar, Guru Besar

Guru Besar UGM Sebut HUT RI Mewah Tapi Keropos: Kemerdekaan Versi Negara Cuma Pesta Pora

Kritik Tajam Uceng: Kemerdekaan Bukan Sekadar Tontonan dan Jamuan

Narakabar.com – Di tengah gemerlap perayaan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, suara kritik justru datang dari lingkungan akademik. Zainal Arifin Mochtar, Guru Besar Tata Negara Universitas Gadjah Mada, menyebut bahwa esensi kemerdekaan telah direduksi menjadi sekadar pertunjukan kemewahan oleh negara.

Peringatan di Masjid Kampus UGM

Kritik tersebut dilontarkan Uceng—sapaan akrab sang akademisi—saat mengisi kajian di Masjid Kampus UGM pada Kamis, 20 Agustus 2026. Ia menyoroti bagaimana peringatan HUT RI yang dikemas secara megah justru memperlihatkan jurang antara imajinasi pemerintah tentang makna kemerdekaan dan realitas yang dirasakan warga sehari-hari.

“Jadi yang dipikirkan negara soal kemerdekaan itu adalah entertainment, mau kelihatan gagah dan mewah. Padahal secara substantif kita keropos, keropos betul.”

Menurut Uceng, pendekatan semacam itu menjebak pemerintah dalam persepsi sempit yang menyamakan kemerdekaan dengan pesta pora dan simbolisme belaka. Alih-alih menyelesaikan persoalan mendasar, anggaran besar justru dialokasikan untuk menghadirkan kemeriahan yang menutupi ketimpangan sosial yang masih mengakar.

Ironi Pakaian Adat dan Penindasan Masyarakat Adat

Salah satu poin yang ia soroti tajam adalah penggunaan busana daerah dalam rangkaian acara kemerdekaan. Simbol keberagaman itu, kata Uceng, menjadi kontradiktif ketika pada waktu yang sama komunitas adat di berbagai penjuru negeri masih menanggung berbagai bentuk penindasan.

“Yang miris, mereka pakai pakaian daerah padahal di saat yang sama masyarakat adat di mana-mana masih mengalami penindasan.”

Kemerdekaan sebagai Kebutuhan Harian, Bukan Seremoni

Uceng menegaskan bahwa kemerdekaan sejati harus terwujud melalui pemenuhan hak-hak dasar dan kepastian kesejahteraan yang berkelanjutan. Ia menolak gagasan bahwa kemerdekaan cukup dipenuhi lewat formalitas upacara.

“Padahal bagi masyarakat, bagi rakyat, kemerdekaan itu adalah udara yang harusnya dia menghirup sehari-hari.”

Ia menambahkan bahwa negara seharusnya membangun persepsi tentang kemerdekaan berdasarkan pengalaman nyata warga, bukan melalui jamuan dan pertunjukan semata.

“Kemerdekaan itu apa yang dia rasakan dari bangun tidur sampai kemudian tidur kembali. Bukan soalan jamuan makan, semuanya makan, gempita, kenyang, lalu kemudian tidak tahu besok makan apa.”

Dari Formal Equality Menuju Substantif Equality

Di akhir paparannya, Uceng menyoroti kecenderungan kebijakan negara yang hanya mengejar kesetaraan di atas kertas tanpa menghadirkan keadilan yang berdampak langsung bagi rakyat.

“Yang kita butuhkan bukan mengakhiri ketimpangan yang jadi formal equality, tapi juga yang kita inginkan adalah substantif equality, kan. Yang kita inginkan adalah bagaimana negara melihatnya dengan adil. Karena dugaan saya apa, negara punya saluran persepsinya sendiri.”

Pernyataan Uceng menegaskan kembali jarak yang lebar antara narasi kemerdekaan yang dibangun pemegang kekuasaan dan apa yang sesungguhnya dialami masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Frequently Asked Questions

What is Guru Besar UGM Sebut HUT RI Mewah?

Guru Besar UGM Sebut HUT RI Mewah is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Guru Besar UGM Sebut HUT RI Mewah matter?

Guru Besar UGM Sebut HUT RI Mewah matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Gabung diskusi