Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Nasional

Key Discussion: Menteri PPPA Sentil Lagu Om Zein: Pengalaman Biologis Perempuan Bukan Bahan Candaan!

Karen Martinez - narakabar.com 3 mins read 6 views

Key Discussion: Menteri PPPA Kritik Lagu Om Zein Soal Pengalaman Biologis Perempuan Key Discussion kembali menjadi topik hangat di media sosial setelah

Key Discussion: Menteri PPPA Sentil Lagu Om Zein: Pengalaman Biologis Perempuan Bukan Bahan Candaan!

Key Discussion: Menteri PPPA Kritik Lagu Om Zein Soal Pengalaman Biologis Perempuan

Key Discussion kembali menjadi topik hangat di media sosial setelah Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, memberikan pernyataan tajam terhadap lagu karya Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein yang dikenal dengan nama Om Zein. Lagu berjudul “Lalaki Langit, Lalangit Bejat” ini menjadi sorotan karena liriknya dianggap mengandung stereotip gender yang mengurangi penghargaan terhadap perempuan, serta menyiratkan pandangan bahwa pengalaman biologis perempuan adalah bahan candaan.

Kontroversi Lagu Om Zein dan Pernyataan Menteri PPPA

Kontroversi yang mencuat dari lagu ini menunjukkan perdebatan luas di kalangan masyarakat tentang kesetaraan gender dan peran seni dalam menyampaikan pesan sosial. Menteri PPPA, Arifah Fauzi, menegaskan bahwa karya seni yang dihasilkan oleh tokoh publik harus memperkuat nilai-nilai kesetaraan, bukan malah memperkuat prasangka. Ia mengkritik lirik lagu yang menggambarkan perempuan sebagai objek, khususnya dalam deskripsi tentang pengalaman biologis mereka, sebagai bahan permainan kata yang bisa memicu diskriminasi.

“Key Discussion tentang keberlanjutan stereotip gender dalam karya seni sangat penting untuk menyadarkan masyarakat bahwa kata-kata yang kita gunakan memiliki dampak besar dalam membentuk persepsi, termasuk terhadap perempuan,” ujar Arifah dalam wawancara dengan media, Minggu (5/7/2026).

Arifah menjelaskan bahwa penggunaan istilah seperti “lalangit bejat” dalam lirik lagu menggambarkan perempuan sebagai entitas yang “tergoda” atau “berpotensi melakukan kesalahan”, yang pada akhirnya bisa menciptakan narasi bahwa keberadaan perempuan dianggap lebih rentan terhadap ketidakadilan. Ia menekankan bahwa Key Discussion ini menjadi momentum untuk merevisi penggunaan bahasa dalam konten budaya, agar lebih inklusif dan berimbang.

Konteks Sosial dan Peran Karya Seni

Lagu Om Zein ini menjadi bukti bagaimana karya seni bisa menjadi alat untuk menyampaikan pesan yang bisa dianggap eksklusif. Arifah mengatakan bahwa Key Discussion dalam konteks ini mengingatkan bahwa kreativitas harus diiringi kesadaran akan dampak sosialnya. Dalam sebuah Key Discussion, ia menyoroti bahwa budaya yang diproduksi oleh pemimpin daerah seperti Bupati Purwakarta perlu menjadi cerminan dari nilai-nilai yang diinginkan oleh masyarakat.

Beberapa kelompok masyarakat, termasuk aktivis perempuan, mengkritik lagu tersebut karena dianggap memperkuat struktur kekuasaan patriarki. Mereka menilai bahwa Key Discussion ini tidak hanya tentang satu lagu, tetapi juga mengenai bagaimana karya seni yang diunggah oleh pejabat publik bisa memengaruhi mindset masyarakat secara luas. Arifah menegaskan bahwa Key Discussion ini menjadi peringatan bahwa semua karya seni perlu diawasi dan dianalisis dari segi kesetaraan gender.

“Key Discussion di dunia kreatif adalah bagian dari upaya untuk menegakkan kesetaraan. Kita harus bisa mengenali bahwa bahasa yang digunakan dalam lagu, buku, atau film memiliki kekuatan untuk membangun atau memecah stereotip gender,” terang Arifah.

Dalam Key Discussion yang diunggah di media sosial, masyarakat juga mengapresiasi langkah pemerintah dalam menegaskan keberadaan perempuan sebagai subjek, bukan objek. Lagu yang sempat viral ini menjadi sarana untuk mendorong diskusi yang lebih mendalam mengenai bagaimana keberagaman dalam budaya bisa dijaga, sementara tetap memperkuat nilai-nilai kesetaraan. Arifah berharap Key Discussion seperti ini bisa menjadi langkah awal untuk mengubah persepsi masyarakat.

Key Discussion terkait lagu Om Zein juga mengundang perdebatan mengenai batas-batas kebebasan berekspresi dan tanggung jawab sosial tokoh publik. Meski ada yang memandang bahwa lagu tersebut hanyalah bentuk seni yang tidak memperkuat kekerasan, Arifah menegaskan bahwa Key Discussion ini mengajak seluruh pihak untuk lebih kritis dalam menilai karya kreatif yang dianggap bisa menyebarluaskan prasangka. Dengan ini, pemerintah berharap bisa menjadi pendorong perubahan nilai sosial menuju masyarakat yang lebih inklusif.

“Key Discussion tentang lagu ini adalah bagian dari upaya untuk melibatkan seluruh elemen masyarakat dalam mendorong kesetaraan gender. Kita harus bisa mengajarkan bahwa pengalaman biologis perempuan bukanlah bahan candaan, tetapi bagian dari identitas yang perlu dihormati,” tambah Arifah.

Gabung diskusi