Penanganan Karhutla Jangan Cuma Hitung Luasan, Pakar UGM Soroti Habitat Satwa
Setiap musim kemarau, Indonesia kembali menghadapi siklus kebakaran hutan dan lahan yang menghanguskan ratusan ribu hektare tutupan vegetasi. Setelah api
Restorasi Pasca-Karhutla: Mengapa Luas Hektare Bukan Lagi Ukuran yang Cukup
Narakabar.com – Setiap musim kemarau, Indonesia kembali menghadapi siklus kebakaran hutan dan lahan yang menghanguskan ratusan ribu hektare tutupan vegetasi. Setelah api padam, perhatian publik dan anggaran negara umumnya tertuju pada satu angka: berapa luas lahan yang berhasil dipulihkan. Namun, seorang ahli biologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) mengingatkan bahwa pendekatan semacam itu menyimpan celah ekologis yang serius. Dwi Sendi Priyono, dosen Fakultas Biologi UGM yang juga tercatat sebagai anggota Society for Wildlife Forensic Science (SWFS), menegaskan bahwa pemulihan pascakarhutla harus diukur dari keterhubungan populasi satwa dan kesehatan genetik mereka, bukan sekadar luasan wilayah yang kembali hijau.
Pernyataan tersebut ia sampaikan pada Jumat (28/8/2026) dalam konteks evaluasi kebijakan restorasi lingkungan. Argumennya berangkat dari satu kenyataan lapangan: banyak kawasan yang diprioritaskan untuk pemulihan justru dipilih karena mudah dijangkau secara logistik, sementara fragmen-fragmen sempit yang secara ekologis menjadi penghubung antara dua blok habitat besar kerap terabaikan.
“Prioritas restorasi harus berbasis konektivitas, bukan cuma luas. Sering yang direstorasi itu area yang gampang diakses, padahal secara ekologis yang paling genting adalah patch-patch sempit yang menghubungkan dua blok besar.”
Fragmentasi Habitat: Ancaman yang Tak Terlihat dari Peta
Fragmentasi habitat merupakan salah satu ancaman paling diam-diam bagi keanekaragaman hayati. Ketika koridor alami terputus oleh kebakaran berulang, satwa memang masih memiliki ruang untuk bertahan hidup di dalam fragmen-fragmen yang tersisa. Akan tetapi, jalur migrasi, area pencarian pakan, lokasi perkawinan, serta rute pertukaran gen antar-populasi ikut terputus. Dalam jangka panjang, isolasi semacam ini mendorong penurunan keragaman genetik, meningkatkan perkawinan sekerabat, dan pada akhirnya membuat populasi rentan terhadap penyakit serta perubahan iklim.
Sendi menekankan bahwa penetapan koridor satwa tidak boleh lagi mengandalkan semata-mata peta kesesuaian habitat yang dihasilkan dari pemodelan spasial. Habitat yang tampak cocok di atas citra satelit belum tentu benar-benar dilintasi oleh satwa di lapangan. Perilaku aktual fauna, kondisi pascakebakaran, intensitas gangguan manusia, serta perubahan morfologi lanskap dapat membuat koridor yang secara teoritis layak justru tidak pernah digunakan.
“Penentuan koridor harus pakai data. Sekarang penentuan koridor sering masih berbasis kesesuaian habitat di atas peta, padahal habitat yang keliatan cocok belum tentu benar-benar dilewati satwa.”
Implikasinya, setiap rencana restorasi koridor wajib didahului survei lapangan intensif: pemasangan kamera jebak, penelusuran jejak, analisis DNA lingkungan (eDNA) dari sampel tanah atau air, serta pemantauan langsung oleh tim ekologi. Tanpa validasi empiris semacam itu, anggaran restorasi berisiko dialokasikan ke lokasi yang secara ekologis tidak pernah menjadi bagian dari jaringan pergerakan satwa.
Genetika sebagai Alarm Dini
Di luar aspek spasial, Sendi mendorong agar pemantauan genetik populasi dimasukkan sebagai indikator resmi dalam evaluasi pemulihan pascakarhutla. Prinsipnya sederhana namun krusial: erosi keragaman genetik selalu mendahului penurunan jumlah individu yang dapat diamati secara kasatmata. Artinya, ketika populasi sudah terlihat menyusut, kerusakan genetik telah berlangsung selama beberapa generasi dan pemulihan menjadi jauh lebih sulit.
“Monitoring genetik jadi indikator pasca-karhutla. Ini yang bisa kasih peringatan dini sebelum populasi kolaps, karena penurunan genetik selalu mendahului penurunan jumlah individu yang terlihat.”
Dalam konteks Indonesia, di mana spesies endemik seperti harimau sumatera, gajah sumatera, dan berbagai primata kecil telah terkurung di fragmen-fragmen sempit, kemampuan mendeteksi tekanan genetik secara dini menjadi instrumen kebijakan yang belum banyak dimanfaatkan. Tanpa data tersebut, keputusan konservasi akan selalu bersifat reaktif—menunggu populasi runtuh sebelum bertindak.
Gambut: Fondasi yang Sering Terabaikan
Seluruh argumen tentang konektivitas dan genetika, menurut Sendi, kehilangan maknanya jika lanskap gambut tetap berada dalam kondisi kering dan mudah terbakar setiap kali musim kemarau tiba. Ekosistem gambut tropis Indonesia menyimpan cadangan karbon yang sangat besar sekaligus menjadi habitat bagi fauna akuatik yang tidak ditemukan di ekosistem lain. Selama kanal drainase yang dibangun untuk perkebunan dan infrastruktur tetap terbuka, muka air gambut akan terus turun, material organik mengering, dan siklus kebakaran berulang menjadi nyaris tak terhindarkan.
“Ini paling mendasar, restorasi hidrologi gambut. Selama kanal drainase masih terbuka, gambut akan tetap kering dan tetap terbakar. Koridor secanggih apapun percuma kalau lanskapnya masih flammable tiap kemarau.”
Restorasi hidrologi—penutupan kembali kanal, normalisasi muka air, dan pemulihan fungsi hidrologis gambut—oleh karena itu harus menjadi prasyarat, bukan pelengkap, dari seluruh program pemulihan pascakarhutla. Tanpa langkah ini, setiap investasi pada koridor satwa atau pemantauan genetik akan terhapus oleh kebakaran berikutnya dalam satu atau dua musim kemarau.
Fauna Akuatik dan Pemantauan Pasca-Api
Sendi juga menyoroti kelompok fauna yang kerap luput dari perhatian: organisme akuatik yang hidup di badan air gambut, seperti ikan endemik, udang, dan berbagai invertebrata. Perubahan kualitas air, suhu, dan struktur habitat akibat kebakaran dapat mengeliminasi spesies-spesies tersebut secara cepat dan tanpa jejak yang mudah terdeteksi. Pemantauan pasca-kebakaran terhadap komunitas akuatik gambut, menurutnya, diperlukan untuk mengetahui spesies apa yang masih bertahan dan mana yang telah hilang.
“Monitoring pasca-kebakaran, terutama buat fauna akuatik gambut. Ini perlu buat tahu spesies apa yang masih tersisa.”
Mengganti Indikator: Dari Hektare ke Viabilitas Populasi
Pada titik akhirnya, Sendi menyerukan pergeseran paradigma dalam cara negara dan lembaga internasional mengukur keberhasilan penanganan karhutla. Angka hektare yang dipadamkan atau direstorasi, selama ini menjadi metrik utama dalam laporan tahunan dan laporan pertanggungjawaban anggaran, dinilai tidak lagi memadai sebagai cermin kesehatan ekosistem.
“Intinya, ke depan kita perlu geser cara mengukur keberhasilan. Jangan cuma ‘berapa hektare yang dipadamkan dan direstorasi’, tapi ‘apakah populasi satwa di dalamnya masih saling terhubung dan masih viable secara genetik’.”
Pergeseran semacam ini menuntut perubahan struktural: penyusunan protokol pemantauan genetik yang terstandarisasi, alokasi anggaran untuk survei lapangan koridor, integrasi data hidrologi gambut ke dalam rencana tata ruang, serta pelibatan ahli ekologi perilaku dan genetika konservasi sejak tahap perencanaan, bukan hanya pada fase evaluasi akhir. Selama metrik keberhasilan tetap berhenti pada angka luas, restorasi akan terus menjadi proyek penghijauan visual—hijau di peta, namun hampa secara ekologis.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Penanganan Karhutla Jangan Cuma Hitung Luasan?
Penanganan Karhutla Jangan Cuma Hitung Luasan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Penanganan Karhutla Jangan Cuma Hitung Luasan matter?
Penanganan Karhutla Jangan Cuma Hitung Luasan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
