Raja Juli Didemo, Nginap di Hotel Mewah Palangka Raya saat Warga Sesak Napas Akibat Asap
Raja Juli Didemo Nginap di Hotel menjadi sorotan warga Palangka Raya, Kalimantan Tengah, saat kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan masih menyelimuti
Raja Juli Didemo Nginap di Hotel di Tengah Kabut Asap Palangka Raya
Narakabar.com – Raja Juli Didemo Nginap di Hotel menjadi sorotan warga Palangka Raya, Kalimantan Tengah, saat kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan masih menyelimuti kota. Warga mendatangi Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni yang menginap di sebuah hotel pada Senin malam, 12 Oktober 2026, untuk memprotes penanganan karhutla yang dinilai belum maksimal.
Asap pekat telah dirasakan warga selama sekitar tiga bulan. Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga berdampak pada kesehatan, jarak pandang, keselamatan di jalan, hingga mata pencaharian masyarakat yang tetap harus bekerja di luar rumah.
Dalam aksi tersebut, warga menyampaikan kekecewaan karena penanganan kebakaran hutan dan bencana asap dianggap belum cepat dan tepat. Mereka juga menyoroti belum adanya penetapan bencana nasional di tengah dampak kabut asap yang terus meluas.
“Sudah tiga bulan kami begini pak. Tidak ada penanganan yang maksimal. Karhutla dan bencana asap juga tidak dinyatakan bencana nasional. Kalau tidak bisa jadi menteri, mundur saja,” kata Aris, warga setempat, melalui pelantang suara.
Aris menilai karhutla bukan sekadar persoalan lahan terbakar. Menurutnya, kebakaran hutan membawa ancaman serius bagi lingkungan, kesehatan warga, ekonomi keluarga, dan keselamatan jiwa. Ia pun menegaskan kekecewaan masyarakat terhadap kinerja pemerintah dalam menangani asap yang belum juga reda.
“Artinya, Raja Juli sebagai Menteri Kehutanan sudah gagal,” tegasnya.
Raja Juli Antoni Tetap Kunjungi Lokasi Karhutla
Sehari setelah Raja Juli Didemo Nginap di Hotel, Raja Juli Antoni tetap melanjutkan kunjungan kerja ke lokasi karhutla di Taman Nasional Sebangau, Jalan Tjilik Riwut Km 23, Palangka Raya, pada Selasa, 13 Oktober 2026. Ia menyatakan pemerintah pusat memiliki empati terhadap masyarakat yang terdampak asap dan menjadikan protes warga sebagai motivasi untuk bekerja.
“Pemerintah pusat punya empati mendalam kepada masyarakat yang tiga bulan terakhir terpapar asap. Ini jadi motivasi kami untuk bekerja,” kata Raja Juli.
Raja Juli sebelumnya juga menjadi perhatian publik setelah sempat terpotret bermain kartu domino bersama pengusaha Aziz Welang, eks tersangka kasus pembalakan liar. Di tengah kondisi asap yang memburuk, kedatangannya ke Palangka Raya pun mendapat tekanan langsung dari warga yang menginginkan langkah penanganan lebih nyata.
Kabut asap kemudian kembali memperlihatkan dampaknya terhadap keselamatan warga. Pada Rabu malam, 14 Oktober 2026, seorang anak berusia 9 tahun mengalami patah tulang tangan dan kaki akibat kecelakaan lalu lintas di persimpangan Jalan Cempaka, Kota Palangka Raya. Kecelakaan itu terjadi ketika sang kakak membonceng korban menggunakan sepeda motor dalam kondisi jarak pandang yang berkurang akibat asap.
Sejumlah video yang beredar di media sosial juga memperlihatkan langit Palangka Raya tampak oranye kehitaman karena asap kebakaran hutan. Dalam salah satu rekaman, warga menggambarkan kondisi di sekitar rumahnya yang tertutup kabut hingga blok di depan rumah tidak lagi terlihat.
“Lihat asapnya. Blok depan rumah kami sudah tidak kelihatan. Ini masih di Bumi? Astaghfirullah. Matahari tak ada sekali,” kata perekam video tersebut, dikutip Kamis, 15 Oktober 2026.
Kualitas Udara Berbahaya dan Kasus ISPA Bertambah
Dampak kabut asap juga terasa pada kehidupan ekonomi warga. Seorang pedagang warung mengaku tetap harus membuka usaha meski khawatir dengan udara yang menyesakkan. Ia menyebut kebutuhan keluarga membuatnya tidak dapat sepenuhnya menghentikan aktivitas kerja di tengah kondisi tersebut.
“Saya punya anak dan istri. Kalau tidak buka warung, kami tidak makan. Takut juga sebenarnya karena asap ini sangat menyesakkan,” kata seorang pedagang warung.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG mencatat konsentrasi partikel PM2.5 di Palangka Raya pada Kamis pagi mencapai 844,6 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut berada jauh di atas batas aman dan berisiko membahayakan kesehatan manusia maupun hewan.
Di Kalimantan Tengah, masih terdapat 7.934 titik kebakaran hutan dan lahan. Sementara itu, jumlah warga yang mengalami infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA terus bertambah. Hingga Rabu, tercatat 101 kasus ISPA dari delapan puskesmas.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Palangka Raya, Heri Pauzi, mengimbau warga untuk menggunakan masker apabila harus beraktivitas. Masyarakat juga diminta membatasi kegiatan di luar rumah selama kualitas udara berada pada level berbahaya.
“Tapi kalau tidak perlu, jangan berada di luar rumah. Kualitas udara masih berada di level berbahaya untuk kesehatan. Bila terdapat gejala sesak napas dan lainnya akibat asap, segera periksa ke puskesmas,” kata Heri Pauzi.
FAQ Kabut Asap Palangka Raya
Apa dampak utama kabut asap bagi warga Palangka Raya?
Kabut asap mengurangi jarak pandang, meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas, mengganggu aktivitas ekonomi, serta meningkatkan risiko gangguan pernapasan seperti ISPA dan sesak napas.
Apa yang perlu dilakukan saat kualitas udara berbahaya?
Warga disarankan memakai masker jika harus keluar rumah, mengurangi aktivitas di luar ruangan, serta segera memeriksakan diri ke puskesmas apabila mengalami sesak napas atau keluhan kesehatan lain akibat paparan asap.
Mengapa Raja Juli Didemo Nginap di Hotel?
Warga memprotes Raja Juli Antoni karena menilai penanganan karhutla dan kabut asap di Kalimantan Tengah belum maksimal, padahal masyarakat telah menghadapi dampak asap selama sekitar tiga bulan.
